Follow Me @ikeayunm

Tuesday, September 8, 2020

Lingkungan dan Keluarga dalam Satu Peta

    



    Keluarga merupakan harta yang paling berharga, begitulah kampanye yang kerap digemborkan. Sebagian orang percaya, bahwa keluarga adalah muara segala tujuan kehidupan. Namun, keluarga juga menjadi palung terdalam yang gelap dan menakutkan bagi mereka yang tenggelam. Tenggelam dalam peliknya cerita bertema keluarga. Cerita yang seharusnya mengantarkan pembacanya untuk memenuhi kisah akhirnya, namun ternyata membuat pembacanya bermandi luka, atas hati dan pikiran yang tak lagi utuh dan sempurna. Luka yang menganga sering kali diartikan sebagai kegagalan membangun keluarga. Kalau sudah begini, esensi dari harta yang paling berharga, diartikan menjadi harta yang paling berbahaya. Terlampau bahaya hingga merampas kesehatan mental seorang manusia. Keluarga adalah cikal bakal mental seseorang. Perlakuan dan kebiasaan akan menjadi potongan-potongan komponen mental seseorang. Jika mental seseorang tidak berkembang semestinya, maka jalan utama adalah menyembuhkan, buka mengucilkan. Sudah banyak kasih keluarga yang meninggalkan anggota keluarga lainnya karena menderita gangguan mental. Mental adalah sesuatu yang rentan. Setiap keadaan dan perlakuan berpengaruh pada mental. Kini, pandemi telah berpengaruh terhadap keadaan mental setiap orang. Keterkejutan saat memasuki masa karantina di rumah, menjadikan pikiran seseorang berkelana, tak heran, banyak penderita yang mengalami kecemasan berlebihan karena ketidakmampuan mengendalikan pikiran. Ketika masa di-rumah-saja, keluarga adalah tempat berlindung dari kecemasan yang berlebihan. Banyak cara untuk menjaga kesehatan mental bersama keluarga selama pandemi.

    Banyak hal tercipta dan bisa dilakukan selama di rumah dengan keluarga. Aktivitas yang menyenangkan seperti berbicara dari hati ke hati adalah salah satu upaya untuk mengerti keadaan satu sama lain antar anggota keluarga. Aktivitas ini sangat membantu membangun mental yang kuat untuk setiap anggota keluarga, karena dengan kepercayaan yang kuat, tercipta keselarasan melangkah dalam sebuah keluarga. Selain itu, kegiatan olahraga dan belajar bersama merupakan hal yang mengasyikkan. Belajar bukan hanya dengan membaca buku bersama, tapi belajar juga melakukan segala hal bersama, sehingga terbentuk pen halaman yang menjadi kenangan. Tak dipungkiri, hal ini menjadikan keluarga sebagai pendidikan dasar pertama, yang membesarkan anak menjadi pemuda yang sesungguhnya. Jika metode membesarkan anak yang keliru, maka ada suatu hal dari diri seorang anak yang hilang, seperti perkembangan mentalnya. Selain itu, keluarga sangat erat dengan lingkungan sekitar, karena sebagai makhluk sosial, setiap insan tak mampu berdiri tanpa bantuan sekitar. Jika dirasa seseorang mengalami gangguan mental, maka jangan diabaikan. Seseorang yang memiliki gangguan mental perlu perhatian yang benar. Lingkungan sekitar berpengaruh penting, terutama dalam hal memberi perhatian. Berdamai dengan keadaan adalah satu dari sekian hal yang mampu dilakukan. Bersosialisasi mampu menjalin komunikasi yang baik untuk meningkatkan kesehatan mental, karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Saling bahu-membahu demi terwujudnya lingkungan yang baik dengan turut serta bersosialisasi dalam masyarakat. Keadaan yang serba luka di tengah pandemi, menata kembali adalah solusi yang tak bisa dipungkiri. Mengembalikan sesuatu tanpa usaha yang sungguh adalah semu. Dengan begini, kata keluarga dan lingkungan menjadi sangat sensitif untuk menjadi bagian dari tatanan yang berpengaruh dalam kesehatan mental.

    Banyak kasus kriminal yang bersumber dari mental yang kurang sehat. Seperti menjamur, banyak di antara manusia yang tidak menyadari pentingnya saling tolong menolong dalam menjaga kesehatan mental. Bukan untuk kepentingan suatu individu, melainkan demi kepentingan bersama. Setiap manusia dalam keluarga adalah komponen peta yang saling melengkapi dan mengisi.

No comments:

Post a Comment