Lingkungan dan Keluarga dalam Satu Peta
Keluarga
merupakan harta yang paling berharga, begitulah kampanye yang kerap
digemborkan. Sebagian orang percaya, bahwa keluarga adalah muara segala tujuan
kehidupan. Namun, keluarga juga menjadi palung terdalam yang gelap dan
menakutkan bagi mereka yang tenggelam. Tenggelam dalam peliknya cerita bertema
keluarga. Cerita yang seharusnya mengantarkan pembacanya untuk memenuhi kisah
akhirnya, namun ternyata membuat pembacanya bermandi luka, atas hati dan
pikiran yang tak lagi utuh dan sempurna. Luka yang menganga sering kali
diartikan sebagai kegagalan membangun keluarga. Kalau sudah begini, esensi dari
harta yang paling berharga, diartikan menjadi harta yang paling berbahaya.
Terlampau bahaya hingga merampas kesehatan mental seorang manusia. Keluarga
adalah cikal bakal mental seseorang. Perlakuan dan kebiasaan akan menjadi
potongan-potongan komponen mental seseorang. Jika mental seseorang tidak
berkembang semestinya, maka jalan utama adalah menyembuhkan, buka mengucilkan.
Sudah banyak kasih keluarga yang meninggalkan anggota keluarga lainnya karena
menderita gangguan mental. Mental adalah sesuatu yang rentan. Setiap keadaan
dan perlakuan berpengaruh pada mental. Kini, pandemi telah berpengaruh terhadap
keadaan mental setiap orang. Keterkejutan saat memasuki masa karantina di
rumah, menjadikan pikiran seseorang berkelana, tak heran, banyak penderita yang
mengalami kecemasan berlebihan karena ketidakmampuan mengendalikan pikiran.
Ketika masa di-rumah-saja, keluarga adalah tempat berlindung dari kecemasan
yang berlebihan. Banyak cara untuk menjaga kesehatan mental bersama keluarga
selama pandemi.
Banyak
hal tercipta dan bisa dilakukan selama di rumah dengan keluarga. Aktivitas yang
menyenangkan seperti berbicara dari hati ke hati adalah salah satu upaya untuk
mengerti keadaan satu sama lain antar anggota keluarga. Aktivitas ini sangat
membantu membangun mental yang kuat untuk setiap anggota keluarga, karena
dengan kepercayaan yang kuat, tercipta keselarasan melangkah dalam sebuah
keluarga. Selain itu, kegiatan olahraga dan belajar bersama merupakan hal yang
mengasyikkan. Belajar bukan hanya dengan membaca buku bersama, tapi belajar
juga melakukan segala hal bersama, sehingga terbentuk pen halaman yang menjadi
kenangan. Tak dipungkiri, hal ini menjadikan keluarga sebagai pendidikan dasar
pertama, yang membesarkan anak menjadi pemuda yang sesungguhnya. Jika metode
membesarkan anak yang keliru, maka ada suatu hal dari diri seorang anak yang
hilang, seperti perkembangan mentalnya. Selain itu, keluarga sangat erat dengan
lingkungan sekitar, karena sebagai makhluk sosial, setiap insan tak mampu
berdiri tanpa bantuan sekitar. Jika dirasa seseorang mengalami gangguan mental,
maka jangan diabaikan. Seseorang yang memiliki gangguan mental perlu perhatian
yang benar. Lingkungan sekitar berpengaruh penting, terutama dalam hal memberi
perhatian. Berdamai dengan keadaan adalah satu dari sekian hal yang mampu
dilakukan. Bersosialisasi mampu menjalin komunikasi yang baik untuk
meningkatkan kesehatan mental, karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk
sosial. Saling bahu-membahu demi terwujudnya lingkungan yang baik dengan turut
serta bersosialisasi dalam masyarakat. Keadaan yang serba luka di tengah
pandemi, menata kembali adalah solusi yang tak bisa dipungkiri. Mengembalikan
sesuatu tanpa usaha yang sungguh adalah semu. Dengan begini, kata keluarga dan
lingkungan menjadi sangat sensitif untuk menjadi bagian dari tatanan yang
berpengaruh dalam kesehatan mental.
Banyak kasus kriminal yang bersumber dari mental yang kurang sehat. Seperti menjamur, banyak di antara manusia yang tidak menyadari pentingnya saling tolong menolong dalam menjaga kesehatan mental. Bukan untuk kepentingan suatu individu, melainkan demi kepentingan bersama. Setiap manusia dalam keluarga adalah komponen peta yang saling melengkapi dan mengisi.
